SEAMEO BIOTROP lakukan Uji Adaptasi Galur-galur Sorghum milik BATAN Diposting oleh agusrial
(2009/7/1)
Tajur-Bogor (30 Juli 2009). Bekerja sama dengan SEAMEO BIOTROP, BATAN melakukan penelitian Uji Adaptasi Galur-galur Sorghum BATAN di lahan penelitian SEAMEO BIOTROP di Tajur-Bogor, Jawa Barat. Pengujian budidaya sorghum yang dilakukan yaitu Tumpangsari dengan Jati dan Jarak Pagar, uji sosialisasi dengan mikorhiza, dan uji produksi dengan teknologi bio-charcoal.
Teknik budidaya selanjutnya yang akan diteliti adalah seleksi galur tahan naungan dan uji produksi setelah dipangkas dengan teknologi bio-charcoal. SEAMEO BIOTROP dan BATAN juga akan mengundang lembaga penelitian lain baik pada tingkat nasional, regional atau internasional untuk bekerja sama dalam pengembangan sorghum di Indonesia, khususnya untuk Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang umumnya memiliki lahan marginal atau lahan kritis.
BATAN telah mampu mengembangkan pemuliaan sorghum dan menghasilkan beberapa galur harapan yang dapat tumbuh pada lahan kering, lahan masam dan lahan basa (salin). Uji adaptasi telah dilakukan di beberapa tempat antara lain di Tangerang, Gunung Kidul, Lampung, dan Kalimantan Timur, dengan hasil sangat memuaskan.
“Berawal dari perkawanan antara peneliti BATAN Soeranto Human dan peneliti SEAMEO BIOTROP Supriyanto diawal tahun 2009, maka SEAMEO BIOTROP yang mempunyai misi untuk dapat mengembangkan segala sesuatu yang terkait dengan biologi tropical di kawasan Regional Asia Tenggara, merasa mendapatkan kehormatan untuk dapat ikut serta mengembangkan apa yang selama ini sudah dirintis oleh BATAN terkait dengan jumlah galur shorgum”. Demikian disampaikan Direktur SEAMEO BIOTROP Bambang Purwantara, saat memberikan sambutan pada acara Kunjungan Kerja Kepala BATAN ke SEAMEO BIOTROP, Selasa (30/06/2009).
Tahun 2004 litbangyasa iptek nuklir bidang pertanian telah mencapai target 10% jumlah varietas unggul tanaman pangan Nasional. Hasil litbang dan rekayasa iptek nuklir di bidang pertanian yaitu varietas-varietas padi unggul hasil teknologi mutasi radiasi, sejak tahun 2006 telah mencapai 1 (satu) juta hektar penyebarannya di seluruh Indonesia.
Patut disimak!
Polls
Apakah anda setuju dengan pembangunan PLTN di Indonesia?