Rabu, 24 September 2014 | 04:21 WIB
Penulis : 14 | 30/08/2010 | 08:11 WIB Dibaca : 3399x
Mutiara 1, Varietas Kedelai Berbiji Besar


Impian untuk menuju kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan kedelai nasional sudah di depan mata. Pada tanggal 22 Juli 2010 Menteri Pertanian melalui Surat Keputusan nomor 2602/Kpts/SR.120/7/2010 telah merilis Mutiara 1 sebagai varietas unggul baru. Mutiara 1 merupakan hasil penelitian Harry Ismulyana peneliti Pusat Aplikasi Teknologi Isotop Radiasi (PATIR) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan menggunakan teknik iradiasi. Dengan menggunakan metode yang sama, sebelum penemuan Mutiara 1 BATAN sudah menghasilkan 4 varietas unggul kedelai, yaitu Muria, Tengger, Meratus dan Rajabasa.



Yang istimewa dari Mutiara 1 adalah memiliki ukuran biji yang super besar yaitu dengan berat sekitar 23,2 gram per 100 butir, jauh lebih besar dibandingkan dengan biji kedelai lokal lainnya. Dengan ukuran ini dan ditambah tampilan yang menarik diharapkan para produsen dan konsumen kedelai yang selama ini lebih menyukai kedelai impor akan beralih untuk menanam dan menggunakan kedelai produksi nasional.



Seperti diketahui meskipun Indonesia memiliki potensi lahan yang cukup luas untuk ditanami kedelai pada kenyataannya seluruh kebutuhan kedelai secara nasional belum dapat terpenuhi. Dari sekitar 2 juta ton kebutuhan nasional baru 1,2 juta ton yang dapat dipenuhi oleh produksi domestik, sehingga masih ada kekurangan sekitar 800 ribu ton yang harus diimpor. Dengan kondisi tersebut para petani kedelai masih memiliki peluang yang besar untuk memenuhinya dengan menanam Mutiara 1. Beberapa kendala petani enggan menanam kedelai diantaranya adalah masih sangat sulit untuk memperoleh benih dengan kualitas unggul dan harga kedelai lokal yang lebih rendah dibanding impor. Mutiara 1 berpotensi untuk dapat meningkatkan produktivitas kedelai nasional karena memiliki hasil rata-rata 2,4 ton per hektar dan potensi hasil 4,1 ton per hektar. Sementara itu, produksi rata-rata nasional kita masih sekitar 1,2 ton per hektar. Selain memiliki ukuran biji super besar Mutiara 1 bersifat tahan rebah, tahan terhadap penyakit karat daun, tahan penyakit bercak/hawar daun coklat dan tahan terhadap hama penggerek pucuk.



Teknik mutasi menggunakan radiasi adalah salah satu metode pemuliaan tanaman yang bisa secara produktif menghasilkan benih-benih unggul. Dengan teknik ini BATAN sudah menghasilkan benih unggul padi sebanyak 16 varietas, kedelai 5 varietas, kacang hijau 3 varietas dan kapas 1 varietas. Atas hasil capaian ini BATAN telah memperoleh penghargaan Agro-Inovasi dari Menteri Pertanian pada tahun 2009.



Di Indonesia, radiasi mulai digunakan untuk mengembangkan varietas tanaman pangan sudah dimulai tahun 1970-an. Pada awal digunakan sempat mendapat banyak tentangan dari masyarakat. Ada kekhawatiran radiasi dapat mempengaruhi kandungan nutrisi di dalam biji tanaman yang dapat berakibat negatif pada kesehatan. Persepsi tersebut dikaitkan dengan adanya kejadian kecelakaan reaktor nuklir yang berdampak pada terlepasnya zat-zat radioaktif ke lingkungan. Sebagaimana disyaratkan oleh peraturan, baik nasional maupun internasional bahwa bahan pangan yang terkontaminasi zat-zat radioaktif dilarang untuk dikonsumsi.



Radiasi yang digunakan untuk menyinari biji pada proses pemuliaan tanaman sangat berbeda dengan zat-zat radioaktif yang dilepaskan dari kecelakaan reaktor nuklir. Radiasi adalah sinar atau cahaya yang dilepaskan dari sumber radiasi yang bersifat gelombang elektromagnetik yang tidak dapat mengakibatkan benda yang disinari menjadi bersifat radioaktif. Penyinaran radiasi pada biji tanaman dilakukan sangat singkat dan dosisnya sangat rendah. Akibat penyinaran tersebut dapat mengubah sifat genetik tanaman dan akan menghasilkan sifat baru pada keturunannya. Perubahan sifat secara genetik ini yang dimanfaatkan oleh peneliti untuk menciptakan sifat-sifat baru yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan induknya.



Dengan keberhasilan BATAN menghasilkan benih unggul kedelai yang memiliki produktivitas tinggi maka diharapkan Indonesia tidak hanya mandiri dalam penyediaan beras tetapi juga mandiri dalam memenuhi kebutuhan kedelai. Hal tersebut sangat sejalan dengan program pemerintah yang akan mendorong kemandirian kedelai hingga tahun 2014.




Belum Ada Komentar
Silahkan Isi Kode Keamanan Berikut :
Komentar akan ditampilkan dihalaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INFONUKLIR.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak untuk ditampilkan.