Kamis, 21 Agustus 2014 | 00:33 WIB
Penulis : eko | 18/07/2011 | 03:32 WIB Dibaca : 6204x
Perubahan Persepsi Terhadap Energi Nuklir


Pengamatan terhadap adanya reaksi nuklir pertama kali dilakukan oleh Otto Hahn dan Fritz Strasmann pada tahun 1938. Sedang kemungkinan diperolehnya reaksi nuklir berantai pertama kali diamati oleh Frederic Juliot-Curie, Hans von Halban dan Lew Kowarsky pada tahun 1939. Kabar penemuan reaksi nuklir tadi mendapatkan perhatian yang serius dariEnrico Fermi. Bersama beberapa ahli fisika lainnya, Fermi segera melihat dan membayangkan potensi kemiliteran yang bisa dihasilkan oleh reaksi nuklir tersebut.



Pada bulan Maret 1939, Fermi menghubungi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan mencoba menarik perhatian mereka dalam hal pembuatan senjata nuklir. Namun usaha Fermi ini ternyata kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah AS. Upaya pembuatan senjata nuklir baru mendapatkan perhatian dari pemerintah ketika Albert Einstein menulis surat kepada Presiden AS Franklin D. Roosevelt beberapa bulan setelah Fermi menghubungi Angkatan Laut. Isi surat Einstein menunjukkan terbukanya kemungkinan pembuatan senjata nuklir dan sekaligus menekankan arti penting bagi AS untuk memiliki senjata tersebut, sebelum didahului oleh fihak Jerman. Gagasan inilah yang kemudian melahirkan Proyek Manhattan berupa pembangunan fasilitas nuklir pertama di dunia.



Reaksi nuklir berantai terkendali pertama kali dihasilkan oleh kelompok peneliti yang terdiri dari para fisikawan di Universitas Chicago di bawah pimpinan Enrico Fermi pada tanggal 2 Desember 1942. Fasilitas riset nuklir yang sangat dirahasiakan itu di bangun di bawah stadion olah raga universitas tersebut. Keberhasilan ini sekaligus menandai babak baru permulaan abad nuklir. Untuk mendapatkan proses fisi nuklir berantai tersebut, Fermi menggunakan fasilitas yang disebut tumpukan atom. Dalam perkembangan berikutnya, istilah tumpukan atom berganti nama dengan reaktor nuklir seperti yang kita kenal hingga saat ini.



Proliferasi Senjata Nuklir



Teknologi nuklir lahir dan berkembang pada saat sedang berkecamuk Perang Dunia II, dan perkembangan teknologi nuklirpun mengarah kepada pembuatan senjata nuklir untuk mendukung kekuatan militer. Puncaknya terjadi di penghujung akhir Perang Dunia II, pada saat itu dua buah bom nuklir meledak masing-masing di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 dengan korban baik langsung maupun tidak langsung mencapai ratusan ribu nyawa manusia.



Meskipun perang dunai II telah usai, namun bayang-bayang ancaman senjata nuklir masih terus menghantui penduduk dunia, terutama pada saat berlangsungnya era perang dingin antara Blok Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur dibawah pimpinan Uni Sovyet. Perlombaan pembuatan senjata nuklir terus berlangsung selama perang dingin itu. Dari sinilah diproduksi persenjataan nuklir yang daya rusaknya jauh semakin hebat dibandingkan dengan bom nuklir generasi Perang Dunia II.



Bom atom pertama yang meledak di Hiroshima pada tahun 1945 berkekuatan 13.000 ton dan bisa langsung membunuh sekitar 200.000 orang yang berada di pusat ledakan, ditambah ratusan ribu korban-korban kotaminasi radioaktif dan sebagainya. Dari asumsi ledakan senjata nuklir di Hiroshima tadi, setiap ton daya ledak senjata nuklir bisa langsung mematikan 15 orang, atau untuk membunuh satu orang cukup diperlukan ledakan dengan kekuatan sekitar 0,07 ton. Padahal pada tahun 1987, di seluruh permukaan bumi bercokol sekitar 50.000 buah hulu ledak nuklir. Dari jumlah itu dapat dihasilkan ledakan dengan kekuatan 20 milyar ton. Jika penduduk dunia saat itu ditaksir sekitar 5 milyar, maka setiap kepala penduduk dunia ini jika dirata-rata akan mendapatkan jatah ledakan bom nuklir masing-masing dengan kekuatan sekitar 4 ton, atau sekitar 60 kali lebih tinggi dibandingkan kekuatan ledakan yang dialami oleh para korban bom atom di Hiroshima.



Perubahan Persepsi



Berdasarkan pada pengalaman yang sangat mengerikan tadi, setiap upaya pemanfaatan teknologi nuklir baik untuk pemenuhan kebutuhan listrik melalui pengoperasian pembangkit listrik tenagan nuklir (PLTN) maupun aplikasi lainnya, seringkai menghadapi kendala berupa penolakan anggota masyarakat terhadap teknologi tersebut. Pada umumnya masyarakat awam mengenal istilah nuklir dari sejarah Perang Dunia II. Salah satu kekhawatiran masyarakat itu adalah bakal diselewengkannya teknologi nuklir untuk pembuatan senjata pemusnah massal yang mengancam kehidupan umat manusia di muka bumi. Bayang-bayang ancaman senjata nuklir belum juga bisa dihapuskan dari benak masyarakat dunia.



Pada kenyataannya, dalam waktu yang bersamaan dengan berlangsungnya perlombaan senjata nuklir, teknologi nuklir juga dikampanyekan oleh Badan tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk maksud-maksud damai. Jadi keberadaan teknologi nuklir bukan semata-mata untuk pembuatan bom nuklir. Ada beberapa manfaat yang dapat dinikmati oleh ummat manusia di muka bumi ini jika teknologi nuklir dimanfaatkan secara benar. Salah satu pemanfaatan teknologi nuklir tersebut adalah dengan memanfaatkan panas nuklir yang keluar pada saat terjadi reaksi nuklir terkendali di dalam reaktor nuklir. Panas nuklir ini dapat dikonversikan untuk memproduksi listrik melalui PLTN, dan listrik yang dihasilkannya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Energi yang dikeluarkan dari pembakaran 1 kg bahan bakar nuklir adalah sebesar 17 milyar kilo kalori atau setara dengan energi yang dikeluarkan dari pembakaran 2,4 juta kg bahan bakar fosil (batubara).



Hadial Nobel Perdamaian tahun 2005 jatuh pada institusi dan individu yang bekerja memerangi proliferasi senjata nuklir. Beberapa waktu terakhir ini, fokus perhatian masyarakat internasional memang tertuju pada masalah tersebut, terutama berkaitan dengan perundingan sulit masalah proliferasi senjata nuklir di Korea Utara dan kecurigaan AS terhadap program nuklir yang ambisius di Iran, serta gagalnya upaya untuk menghidupkan kembali traktat non-proliferasi. Terpilihnya IAEA dan Direktur Jendral badan itu, Mohamed El-Baradie, sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 2005, menunjukkan seriusnya lembaga tersebut dalam memerangi proliferasi senjata nuklir. Dengan kemenangan ini, persepsi masyarakat terhadap energi nuklirpun akan berubah. Kemenangan itupun diharapkan akan memupus keraguan sebagian besar masyarakat awam terhadap energi nuklir.



IAEA merupakan salah satu badan PBB yang tugasnya mendorong pemanfaatan energi nuklir untuk maksud damai sekaligus berusaha menjamin bahwa teknologi itu tidak akan dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Melalui pengawasan yang ketat, teknologi nuklir tidak akan disalahgunakan di luar maksud-maksud damai. Sebaliknya, pemanfaatannya secara benar ternyata banyak memberikan keuntungan bagi kehidupan. Salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan energi dunia yang sumbernya semakin langka yang harganya semakin mahal. Yang lebih penting lagi, pemanfaatannya tidak lagi mendapat penolakan dari masyarakat (Mukhlis Akhadi, PTKMR-BATAN).

Belum Ada Komentar
Silahkan Isi Kode Keamanan Berikut :
Komentar akan ditampilkan dihalaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INFONUKLIR.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak untuk ditampilkan.