Jumat, 25 April 2014 | 08:11 WIB
Penulis : Mura | 28/06/2012 | 06:52 WIB Dibaca : 12546x
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

Pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia sudah memiliki sejarah panjang. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai kejadian dunia yang terkait dengan tenaga nuklir.serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) nuklir yang semakin pesat. Penggunaan senjata nuklir atau dikenal dengan bom atom merupakan alasan tersendiri bagi negara-negara di dunia untuk mengembangkan teknologi nuklir di negaranya. Hampir sekitar 2 dasawarsa dari sejak awal teknologi nuklir mulai dikembangkan pada tahun 1940-an, kemampuan penguasaan Iptek nuklir lebih banyak diarahkan untuk persenjataan. Dan telah terbukti bahwa hasil pengembangan teknologi nuklir bisa menghasilkan senjata yang memiliki kekuatan sangat dahsyat sebagaimana telah digunakan di Hiroshima dan Nagasaki.


Setelah kejadian Hiroshima dan Nagasaki teknologi persenjataan nuklir masih terus dikembangkan, terutama di negara-negara maju seperti Perancis, Amerika, Inggris, Uni Sovyet dan China. Namun dengan berakhirnya perang dingin antara Negara-negara di blok barat yang dikomandani Amerika dan blok timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet, serta didukung oleh keinginan lebih memfokuskan penggunaan teknologi nuklir untuk maksud damai akhirnya pengembangan teknologi persenjataan nuklir makin lama semakin berkurang. Setelah berakhir perang dingin perkembangan Iptek nuklir di bidang non persenjataan semakin pesat, seperti di bidang kesehatan, pertanian, industri dan energi.


Sejalan dengan kemajuan teknologi nuklir di dunia, beberapa negara berkembang akhirnya mengikuti jejak negara-negara maju melakukan penguasaan teknologi dan memanfaatkannya untuk pembangunan negaranya. Diantara negara-negara tersebut adalah Korea, India, Malaysia dan Indonesia. Khususnya Indonesia, untuk menangani kegiatan penguasaan dan pemanfaatan teknologi nuklir kemudian dibentuk institusi yang kemudian diberi nama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sedangkan institusi untuk pengawasan pelaksanaan penelitian dan pemanfaatan teknologi nuklir dibentuk Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).


Badan Tenaga Nuklir Nasional


Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dibentuk berawal dari satu keinginan dari pemerintah Indonesia untuk mengetahui dampak dari percobaan senjata nuklir yang dilakukan oleh negara-negara maju di kawasan Pasifik terhadap wilayah Indonesia. Perlu diketahui bahwa dari kegiatan percobaan senjata nuklir akan menghasilkan partikel-partikel kecil yang bersifat radioaktif dalam bentuk debu atau gas. Partikel ini sangat mudah dibawa oleh angin dan dapat mengkontaminasi lingkungan. Karena partikel tersebut sangat ringan maka akan memungkinkan untuk diterbangkan ke daerah yang radiusnya cukup jauh dan luas. Wilayah Indonesia perlu dilakukan penyelidikan terhadap kemungkinan kontaminasi partikel radioaktif karena jaraknya yang cukup dekat dengan kawasan Pasifik yang sering dijadikan lokasi percobaan senjata nuklir.


Dengan dasar itulah kemudian Pemerintah pada tahun 1954 membentuk Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitas (PNPR). Panitia beranggotakan para pakar dari berbagai kementerian dan diketuai oleh dr. G.A. Siwabessy dari Kementerian Kesehatan. Tugas PNPR adalah melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan kontaminasi partikel radioaktif dari percobaan senjata nuklir. Hasil dari penyelidikan dinyatakan bahwa wilayah Indonesia bersih dari kontaminan radioaktif.


Untuk mengembangkan kemampuan bangsa Indonesia yang lebih luas di bidang teknologi nuklir pada tahun 1958 PNPR ditingkatkan status kelembagaannya menjadi Lembaga Tenaga Atom (LTA). LTA inilah setelah melalui beberapa kali perubahan secara organisasi, orientasi litbang, fokus program dan pembinaan sumberdaya manusia kemudian berkembang menjadi BATAN seperti saat ini. Berdasarkan UU nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran status BATAN saat ini adalah sebagai Badan Pelaksana dalam kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan serta pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia.


BATAN saat ini sudah berkembang menjadi lembaga penelitian yang besar, memiliki fasilitas yang canggih dan lengkap, serta didukung dengan sumberdaya manusia yang cukup besar. Fasilitas penelitian BATAN tersebar di berbagai daerah, yaitu di Pasar Jumat, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Serpong. Fasilitas penelitian nuklir yang paling lengkap berada di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong. Di kawasan ini terdapat beberapa fasilitas penelitian utama yang dimanfaatkan untuk meningkatkan penguasaan teknologi tinggi dalam mengantisipasi terhadap pemanfaatan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik, diantaranya adalah reaktor nuklir, instalasi fabrikasi elemen bakar reaktor, instalasi keselamatan dan pengolahan limbah radioaktif.


Fasilitas penelitian lain sebagai pendukung kegiatan litbang nuklir adalah di Yogyakarta. Di kawasan penelitian ini terdapat reaktor penelitian dengan daya kecil yang digunakan untuk pelatihan bagi calon-calon operator reaktor. Fasilitas ini sangat penting untuk menyiapkan para operator yang akan ditugaskan untuk mengoperasikan reaktor yang sekarang sudah ada dan untuk mengantisipasi rencana pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) mendatang. Sedangkan fasilitas nuklir di Bandung lebih banyak dimanfaatkan untuk pembuatan radioisotop yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.


Selain digunakan untuk mendukung industrialisasi di bidang kelistrikan, teknologi nuklir dapat digunakan untuk bidang-bidang yang bersifat tepat guna, misalnya untuk kesehatan, industri, pertanian dll. Kawasan penelitian nuklir BATAN di Pasar Jumat lebih diarahkan untuk tujuan tersebut. Di fasilitas ini teknologi nuklir lebih dikembangkan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian, yaitu untuk menghasilkan tanaman unggul, pengawetan produk makanan olahan, dan pengembangan suplemen pakan ternak. Di kawasan ini juga dikembangkan fasilitas pelayanan kesehatan dan kalibrasi peralatan nuklir dll.


Dari kegiatan pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan, BATAN sudah menghasilkan produk-produk teknologi yang sangat bermanfaat bagi kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh, hasil dari pengembangan varietas unggul tanaman padi sudah bisa meningkatkan produktivitas pertanian di berbagai daerah. Petani di daerah tidak hanya tertarik untuk melakukan budidaya tanaman pangan tetapi juga di bidang peternakan. Hal ini karena dukungan produk teknologi nuklir berupa suplemen pakan ternak yang bisa meningkatkan produktivitas ternak yang sangat menguntungkan peternak. Dari penelitian di bidang kesehatan telah dihasilkan radioisotop dan radiofarmaka yang sangat dibutuhkan untuk keperluan diagnosis dan terapi untuk beberapa penyakit.

Belum Ada Komentar
Silahkan Isi Kode Keamanan Berikut :
Komentar akan ditampilkan dihalaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INFONUKLIR.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak untuk ditampilkan.