Sabtu, 12 Juli 2014 | 19:58 WIB
Penulis : admin | 15/07/2013 | 00:00 WIB Dibaca : 2268x
Dapatkah kita terkena dampak langsung radioisotop Polonium 210?

Masih ingatkah anda dengan kasus kematian agen rahasia Rusia KGB Alexander Litvinenko di Inggris pada tanggal 23 November 2006 akibat keracunan unsur radioisotop?. Para dokter telah memastikan bahwa Alexander Litvinenko telah diracuni radioisotop Polonium 210 dengan dosis letal, yang terdeteksi melalui urinnya sebelum ia meninggal. Sejak saat itu, pihak berwenang telah menemukan jejak radioisotop Polonium 210 pada 10 tempat yang telah dikunjungi korban sebelum ia mulai sekarat pada 1 November 2006. Selain itu, para ilmuwan telah menemukan jejak radiasi dalam 2 pesawat jet British Airways yang terbang dengan rute London dan Moskow dalam minggu-minggu sebelum kematian Litvinenko. Gelombang kekhawatiran telah menyebar di seluruh Inggris mengenai kemungkinan terkontaminasinya puluhan ribu orang yang berada di gedung atau pesawat jet pada waktu kejadian.


Polonium 210 adalah suatu isotop dari unsur Polonium yang bersifat sangat radioaktif. Unsur ini bila dalam jumlah sangt kecil, tidak berbahaya. Polonium 210 dapat dijumpai di alam, dalam bentuk bijih uranium, sejumlah kecil terdapat dalam tubuh kita dan pada makanan tertentu. Anda juga akan menemukan Polonium 210 dalam rokok sigaret dan produk tembakau lainnya. Sekitar 90% kematian pada perokok aktif dan pasif diduga terkait dengan kandungan isotop radioaktif Polonium 210.


Namun, keracunan yang dialami oleh Alexander Litvinenko memerlukan dosis yang jauh lebih tinggi dari yang ditemukan di alam. Dosis beberapa microgram, yang tidak lebih dari setitik debu, adalah sangat fatal, dengan radioaktivitas yang ekstrem. Dosis maksimum yang aman bagi manusia hanyalah 7 picogram, lebih kecil dari 1 mikrogram. Setelah tertelan, Polonium 210 didalam tubuh mempunyai waktu paruh sekitar 50 hari. Radioisotop ini didalam tubuh akan menyebar ke seluruh tubuh dengan sangat cepat, menyerang sel-sel tubuh dan menghancurkan organ tubuh lainnya akibat radiasi internal yang ditimbulkan olehnya. Korban biasanya meninggal dunia akibat kegagalan fungsi organ-organ tubuh (multiple failure organs)


Data yang tersedia mengenai efek biologis Polonium 210 pada manusia hingga saat ini sungguh terbatas, sejak kasus keracunan polonium 210 pertama kali terjadi pada tahun 1927 yang menimpa Nobus Yamada pada saat bekerja dengan Polonium di Laboratorium Marie Curie. Penelitian terkini membuktikan bahwa Polonium 210 diserap 10 % oleh saluran pencernaan menuju aliran darah, dengan cepat akan terakumulasi didalam organ dan jaringan tubuh, termasuk hati, ginjal sumsum tulang, kulit dan folikel rambut. Sekitar 5 %, Polonium 210 akan terdeposit dalam tulang. Studi terkini skala laboratorium menunjukkan bahwa dosis 0,1-0,3 GBq pada pria dewasa akan berakibat fatal dalam waktu 1 bulan. Hal ini juga berlaku dengan dosis 1-3 GBq atau lebih yang tertelan dengan asumsi penyerapan gastrointestinal 10 % menuju aliran darah. Perawatan remedial medis tidak membantu dalam beberapa jam setelah proses pencernaan.


Sebagian besar personil rumah sakit yang menangani Litvinenko, awak pesawat British Airways dan orang-orang yang melakukan kontak dengan Litvinenko tepat sebelum ia jatuh sakit, telah dirujuk untuk menjalani pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya kontaminasi. Para ahli mengatakan risiko kontaminasi dari paparan langsung Polonium 210 adalah sangat rendah. Hal ini disebabkan karena Polonium 210 memancarkan sinar alpha, yang daya tembusnya rendah, sehelai kertas tipis atau lapisan epidermis kulit, dapat menghalangi daya tembus sinar alpha tersebut. Sinar alpha tidak dapat menembus lapisan kulit, sehingga orang-orang yang berada di sekitar Litvinenko tidak berisiko terkena radiasi. Menurut para dokter, satu-satunya kontak langsung yang berisiko terpapar Polonium 210 adalah melalui keringat, urin, feses korban yang mengenai luka terbuka dari seseorang yang berada di dekatnya, serta melalui inhalasi, dan menelan langsung substansi murni Polonium 210 atau cairan tubuh korban. Semua orang yang terlibat dengan Litvinenko telah diuji dan memberikan hasil negatif terhadap kontaminasi Polonium 210 pada tanggal 30 November 2006.


Menurut sumber di Laboratorium Nasional Los Alamos, Polonium 210 memiliki kekuatan 250 juta lebih mematikan dibandingkan dengan hidrogen sianida. Karena keberadaannya yang langka di alam bebas, maka para ahli berpendapat bahwa sejumlah besar Polonium 210 tidak mudah didapat kecuali bagi mereka yang memiliki akses ke reaktor nuklir. Selama ini Polonium 210 banyak digunakan sebagai sumber energi dan heater pada satelit dan pesawat ruang angkasa. (Astunor)



(Source : www.science.howstuffworks.com/polonium-210.htm, www.ehs.utoronto.ca/services/radiation/radtraining/module3.htm, http://warincontext.org/2012/07/04/the-effects-of-polonium-poisoning/, (http://www.alistreview.com/2006/12/not_many_solutions_for_russias.html)

Belum Ada Komentar
Silahkan Isi Kode Keamanan Berikut :
Komentar akan ditampilkan dihalaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INFONUKLIR.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak untuk ditampilkan.