Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan suatu cara pengendalian vektor yang ramah lingkungan, efektif, dan potensial. Teknik ini disebut juga sebagai pengendalian spesifik species, yaitu membunuh vektor dengan vektor itu sendiri (autocidal technique). Cara kerja teknik inipun relatif mudah, yaitu mengiradiasi koloni serangga jantan di laboratorium, kemudian melepaskannya ke habitat secara periodik. Akibat pelepasan serangga ke habitat, maka lama kelamaan di lokasi pelepasan tersebut akan terjadi penurunan populasi, yang secara otomatis akan menurunkan jumlah penderita DBD, karena tingkat kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil menjadi makin besar dari generasi pertama ke generasi berikutnya. Akibatnya presentase fertilitas populasi serangga di lapangan akan semakin menurun, teoritis pada generasi ke-4 persentase fertilitas mencapai titik terendah menjadi 0% atau dengan kata lain jumlah populasi serangga pada generasi ke-5 nihil.
Rilis TSM pada Aedes di Itali pada saat ini hanya membutuhkan 900 ekor nyamuk tiap minggu untuk lahan seluas 10 hektar. Konsep TSM secara eksperimen di lapangan telah dibuktikan melalui keberhasilan program eradikasi lalat ternak Cochliomyia hominivorax Coq. di Pulau Curacao Amerika Serikat pada tahun 1958-1959, yang menghabiskan biaya sebesar US $ 10 Jt. Dampak keberhasilan program tersebut adalah penghematan biaya pengendalian sebesar US $ 140 Jt. Pada tanggal 25 – 28 Juni 2007 IAEA mengadakan rapat konsultan yang khusus membahas mengenai penggunaan TSM pada pengendalian Aedes, rapat dihadiri para peserta dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, Indonesia, dan Myanmar. Forum meminta agar pilot proyek pengendalian TSM pada Aedes dilakukan di Indonesia, khususnya di salah satu pulau di Kepulauan Seribu.
Menurut LA CHANCE (1979) salah satu syarat TSM adalah kemampuan memelihara serangga secara masal di laboratorium dengan biaya yang murah. Secara kebetulan Aedes aegypti merupakan nyamuk bersifat heterozygot dan sangat mudah dipelihara di laboratorium. Berdasarkan perhitungan pemakaian pakan pada pemeliharaan nyamuk tersebut di laboratorium, bila dihitung berdasarkan harga pakan yang digunakan dalam hal ini Pedigree per-satu ekor nyamuk sekitar Rp 1,-
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dosis 70 Gy mempunyai nilai daya saing kawin terendah, yaitu 0,31. Ini artinya bila ingin melakukan pelepasan nyamuk mandul ke lapangan minimal sebanyak 8 kali lipat dari populasi lapang atau kalau menurut kaidah yang sudah berlaku biasanya sekitar 9 kali lipat (KNIPLING, 1967). Dengan melepas nyamuk mandul seperti ini, maka kemampuan bersaing nyamuk mandul yang dilepas dengan nyamuk alam akan seimbang atau bahkan lebih kompetitif, mengingat kualitas nyamuk laboratorium akan lebih baik dari nyamuk alam yang stadium larvanya kurang pakan bergizi. Dalam hal ini dosis 65 Gy juga bisa dipakai sebagai pengendali karena tingkat sterilitasnya masih tinggi dan daya saing kawinnya lebih bagus.
Saat ini penggunaan TSM pada pengendalian vektor penyakit DBD telah sampai pada uji pilot proyek dan diharapkan pada akhir tahun depan sudah bisa disertifikasi sebagai suatu sistem pengendalian vektor yang handal, karena uji pilot proyek ini dikerjakan bersama-sama dengan Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Kementrian Kesehatan yang ada di Salatiga Jawa Tengah. Pada ahun 2009 lalu, TSM pada DBD telah mendapatkan pernghargaan sebagai salah satu riset inovasi paling prospektif dari Menristek. (Ali Rahayu, PATIR BATAN)