Reaktor Riset
03 Aug 2010 11:37:12
Artikel terkait
| |
|||||||||
|
|
Reaksi fisi adalah fenomena penting dalam reaktor nuklir. Dari reaksi fisi U-235 dihasilkan energi 202 MeV dan lebih kurang 3 buah neutron. Perbedaan utama dari reaktor riset dan reaktor daya adalah terletak dari apa yang dimanfaatkan dari hasil reaksi fisi yang terjadi di dalamnya. Dalam reaktor riset energi hasil reaksi fisi tidak dimanfaatkan tetapi dibuang begitu saja ke lingkungan. Hasil reaksi fisi yang diambil manfaatnya dalam reaktor riset adalah partikel neutron. Oleh karena energi reaksi fisi tidak diperlukan (tidak diambil manfaatnya), maka daya dari reaktor riset tidak begitu besar. Daya reaktor riset sebesar 30 MW seperti reaktor G.A. Siwabessy yang ada di Serpong sudah termasuk tinggi, reaktor riset berdaya tinggi seperti ini jumlahnya di dunia dapat dihitung dengan tangan.
Dalam perancangan reaktor riset, efisiensi termodinamika sistem tidak menjadi fokus utama, jadi temperatur pendingin tidak perlu tinggi, cukup pada rentang 40 – 50oC. Fokus utama perancangan reaktor riset adalah kuantitas dan kualitas partikel neutron. Pada reakt or riset, neutron digunakan untuk berbagai manfaat baik yang bersifat riset ilmu pengetahuan maupun ekonomis. Pemanfaatan neutron pada reaktor riset antara lain adalah untuk produksi radiosiotop (bidang kesehatan, pertanian dan industri), analisis material melalui teknik Analisis Pengaktifan Neutron (APN), spektrometer neutron, difraktometer neutron, silicon dopping (bahan semikonduktor), riset pengembangan material baru dan lain sebagainya. Reaktor riset kebanyakan berbentuk kolam dan bertekanan rendah (satu atmosfir).

Struktur dan konstruksi reaktor riset
Gambar di atas menggambarkan skets sederhana dari reaktor G.A. Siwabessy yang ada di Serpong, Tangerang. Panas yang diambil oleh pendingin air (berlaku juga sebagai moderator) dibuang ke lingkungan melalui menara pendingin. Pada reaktor riset terdapat tabung berkas neutron (neutron beam tube) untuk menyalurkan partikel neutron keluar dari teras sehingga mudah untuk dimanfaatkan. Reaktor riset di Yogyakarta dan Bandung sangat identik dengan Gambar 9 di atas. Bahan bakar reaktor G.A. Siwabessy berbentuk lempeng/plat, sedangkan reaktor Kartini di Yogyakarta dan TRIGA 2000 di Bandung berbentuk silinder (batang).
Nama TRIGA berasal dari singkatan “Training, Research, Isotop production, by General Atomic” menunjukan fungsi reaktor sebagai reaktor penelitian. Reaktor Triga Bandung ini mulai dibangun pada tanngal 1 Jannuari 1961 dann mencapai kektritisan pada 16 Oktober 1964 dan secara resmi mulai dioperasikan pada tanggal 20 Februari 1965 dengan daya sebesar 259 kW. Pada tahun 1974, daya reaktor ditingkatkan menjadi1 MW dan kemudian secara resmi dioperasikan dengan daya maksimal 2 MW pada 24 Juni 2000. Bahan bakar yang digunakan ialah uranium diperkaya yang dicampur secara homogen dengan zirkonium hidrida (UZrH), air (H2O) yang bertindak sebagai moderator, pendingin H2O, reflector grafit dan H2O sebanyak 4 buah, batang kendali B4C sebanyak 5 buah.
Reaktor Kartini di Yogyakarta adalah reaktor TRIGA kedua yang dibangun di Indonesia. Pembangunannya dimulai pada tanggal 1 April 1975 dan mencapai kekritisan pada 25 Januari 1979. Reaktor yang dioperasikan pada daya 100 kW ini menggunakan bahan bakar, moderator, pendingin dan reflektor yang sama dengan reaktor Bandung, tetaoi jumlah batang kendali hanya 3 buah.
Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG- GAS) mulai dibangun di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong pada tanggal 1 Januari 1983 dan mencapai kekritisan pada tanggal 29 Juli 1987. Reaktor ini dapat dioperasikan pada daya maksimal 30 MW. Bahan bakar yang digunakan adalah U3Si2Alx, moderator dan pendingin air ringan, reflector Be dan H2O, batang kendali Ag, In, Cd (8 buah). Pertahanan berlapis RSG-GAS dimulai dari desain elemen bakar reaktor, sistem pendingin reaktor dan pengungkung reaktor yang dilengkapi dengan sistem ventilasi. Penggunaan sistem redudansi pada seluruh sistem keselamatan bertujuan untuk meningkatkan keandalan sistem keselamatan sehingga resiko kegagalan dapat diperkecil untuk melindungi keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan.
| |
|||||||||
|
|







