Bookmark and Share
Proyeksi dan Sumber Daya
31 Aug 2010 05:48:35
kecilkan font perbesar font

Medio tahun lima puluhan merupakan era berakhirnya periode kerahasiaan di dalam ilmu dan teknologi nuklir, pidato  bersejarah “Atom untuk Perdamaian” (Atom for Peace) yang diucapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Dwight Eishenhower pada 8 Desember 1953 di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU-PBB) dan penyelenggaraan Konferensi Penggunaan Tenaga Atom Tunjuan Damai di Jenewa 1954, merupakan tonggak awal yang menandai berakhirnya periode ketertutupan dalam hubungan internasional di bidang nuklir.

Konferensi di Jenewa tersebut juga menjadi pendorong utama bagi promosi teknologi nuklir di seluruh dunia, dan banyak negara kemudian memulai program nuklirnya (termasuk Indonesia). Oleh karena itu tidaklah mengherankan, beberapa tahun kemudian terlihat banyak reaktor dan fasilitas nuklir untuk pengolahan dan pengayaan uranium dan ekstraksi plutonium serta pengembangan berbagai desain reaktor termasuk untuk pembangkit daya listrik (PLTN).                                    

Sementara itu pada kurun waktu yang bersamaan pertumbuhan energi dunia yang diawali dengan pengembangan suplai batu bara, kemudian berkembang ke penggunaan minyak dan gas alam, bahkan lima puluh tahun terakhir terjadi peningkatan luar biasa dalam penggunaan minyak dan gas alam. Di sisi lain, selama tahun 1950-an dan 1960-an bahan bakar minyak dan gas (terutama minyak) ternyata sangat melimpah dan murah. Keadaan tersebut menjadi salah satu faktor utama terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, terutama negara-negara industri. Akan tetapi sejak 1970-an mulai ada perubahan besar, dimana negara-negara industri mulai memasuki kurva energi yang mulai mendatar, sementara di negara-negara berkembang permintaan energi semakin mantap dan tajam.

Kegiatan proyek konstruksi PLTN pada akhirnya menjadi suatu kegiatan yang dinamis, walaupun beresiko dan penuh tantangan, akan tetapi negara-negara di dunia melihat nuklir memegang peran penting dalam bauran pembangkit energi (energy mix) masa depan. Hal ini mungkin selain sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan energi yang meningkat terhadap listrik, sekaligus juga sebagai langkah managerial untuk mengatasi tekanan yang makin keras bagi solusi energi yang tidak ramah lingkungan.

Di seluruh dunia saat ini terdapat 442 PLTN, menghasilkan 16 persen kebutuhan listrik dunia. Seiring dengan PLTN yang tidak menghasilkan gas rumah kaca, nuklir menjadi sasaran kebijakan energi yang ramah lingkungan. Australia kemungkinan besar akan memulai produksi listrik dari energi nuklir untuk mendukung kebutuhan energinya yang meningkat, yang akan lebih dua kali lipat pada tahun 2050, demikian laporan dalam Review of Uranium Mining, Processing and Nuclear Energy in Australia yang dilansir 21 November 2006, seperti dikutip oleh Nuclear Energy Insight, edisi Januari 2007.

Di Asia, China seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat, merencanakan untuk menambah 63 PLTN baru, hampir empat kali lipat dari 16 PLTN yang dimilikinya sekarang. Tidak mau ketinggalan dengan Asia dan Eropa, Rusia kini sedang mengupayakan rencana pembangunan PLTN baru hingga tahun 2030, termasuk PLTN terapung di kawasan laut utara. Rusia sekarang memiliki 31 PLTN yang menyediakan 16 persen kebutuhan listriknya dan sembilan tahun ke depan diupayakan hingga menjadi 19 persen. Untuk mencapai sasaran tersebut, Rusia harus membangun 2 PLTN baru setiap tahunnya.

Bagaimana dengan Indonesia?. Rencana pembangunan PLTN pada dasarnya sudah sejak lama dijajagi oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional, namun hingga kini belum dapat terealisir, dengan segala permasalahannya.  Dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional, khususnya mengenai peranan energi baru dan terbarukan yaitu: biomasa, nuklir, hidro, matahari dan angin, kelak dapat berkontribusi menjadi lebih besar dari 5 persen pada tahun 2025 terhadap konsumsi energi nasional, kiranya dapat mendorong pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan pemanfaatan nuklir masuk dalam bauran energi (energy mix) di Indonesia, dengan tetap memperhatikan hal-hal keselamatan nuklir sebagaimana telah diuraikan di muka.

Teknologi nuklir yang kian berkembang, juga telah semakin berkembang pesat dari sisi keselamatan nuklir dan radiasi, setelah beberapa peristiwa insiden (kelainan) dan aksiden (kecelakaan) di PLTN maupun fasilitas daur bahan bakar nuklir. PLTN telah mengalami evolusi desain sehingga keselamatan telah ditingkatkan menuju catastrophe free dengan tetap meningkatkan pula economic competitiveness, proliferation resistance dan sedapat mungkin spent fuel free.

Kelompok pengawas nuklir internasional telah dibentuk untuk menghadapi masalah-masalah bersama dalam memperkuat kerja sama dan koordinasi. Vendor dan organisasi pengusaha instalasi nuklir (PLTN) telah berkonsolidasi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga mendapat perhatian besar antar pengusaha instalasi nuklir, maupun didorong kesadaran umum terhadap isu-isu keselamatan nuklir. Litbang multilateral mempunyai konsep inovatif yang menekankan pendekatan baru kepada keselamatan yang kelak menjadi suatu bagian penting untuk masa depan nuklir.

Proyeksi peningkatan pengetahuan dan  revitalisasi sumber daya manusia juga berkembang, didukung kerja sama multilateral dalam bidang pendidikan dan pelatihan menuju suatu globalisasi keahlian di dalam banyak hal, sehingga kelak banyak negara dapat menilai situasi keselamatan nuklir mereka sendiri.

Dari aspek pengembangan hukum dan peraturan, makin banyak negara yang telah mempunyai badan pengawas yang bersifat mandiri dan bertindak efektif, karena tantangan pemberlakuan keselamatan nuklir tetap berada dalam kompetensi negara bersangkutan. Rejim keselamatan nuklir global kini sedang berkembang ke arah sinergi yang kuat dan kokoh dengan didukung berbagai konvensi di bidang ketenaganukliran.

Dari segi teknik, teknologi baru berkontribusi pada pengoperasian pembangkit nuklir yang lebif efisien dan aman karena peningkatan keselamatan akan juga meningkatkan kondisi fisik instalasi nuklir. Tahun 1980-an ditandai dengan kesadaran orang tentang masalah lingkungan. Kerusakan yang terjadi semakin terasa di banyak tempat dan akhirnya terjadi ancaman (pemanasan) global bagi planet bumi sebagai akibat pemanfaatan sumber dan sistem energi yang tidak ramah lingkungan.

Ditetapkannya Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) pada tahun 1997 yang mengharuskan emisi gas rumah kaca dapat diturunkan pada kurun waktu 2008 – 2012, merefleksikan tingkat kesadaran dunia akan arti pentingnya lingkungan hidup dalam keberlanjutan pembangunan. Sejalan dengan hal tersebut,  peranan nuklir sebagai salah satu solusi bagi pembangkit energi terbarukan patut dipertimbangkan karena energi nuklir adalah salah satu sumber pembangkit energi yang paling sedikit intensitas emisi karbonnya yang ramah lingkungan.

Teknologi nuklir yang bertumpu pada ilmu pengetahuan nuklir adalah bagian dari teknologi yang telah dikembangkan manusia cukup lama dan telah berperan signifikan pada pembangunan berkelanjutan pada abad 20 yang lalu dan masih diharapkan, potensinya untuk berperan lebih signifikan lagi di abad 21 ini.

 

(Estopet M.D. Sormin)

Dikirim oleh:


Artikel terkait

KOMENTAR

Belum ada komentar di artikel ini
0003397392  


  PUBLIKASI   NUCLEAR MILE STONES    POLLING
Buku, Booklet,Leaflet dan Article
1896  Ahli fisika Perancis Henri Becquerel menemukan gejala radioaktivitas ketika plat-plat fotonya diburamkan oleh sinar dari
Setujukah Anda dengan pembangunan PLTN di Indonesia?

About Us | Contact Us | Privacy | Term Of Use
Copyright © Tim Pengelola Website Infonuklir, 2010. All right reserved
Ged.Perasten, Jl. Lebak Bulus No 49, Jakarta Selatan 12070. Telp 021 7659401 Fax 021 75913833
This site best view with Firefox version 3 or latest, and 1024 x 768px screen resolution