Korea Selatan semakin memantapkan diri menuju negara terdepan di bidang nuklir terutama PLTN. Hal ini ditandai dengan kesepakatan penawaran antara Korea Electric Power Cooperation (KEPCO) dengan Elektrik Uretim (EUAS) di Istambul Kamis (11/03/2010).
Isi dari kesepakatan ini adalah KEPCO diberi waktu 5 bulan untuk menyiapkan dan mengajukan penawaran pembuatan empat reaktor daya (PLTN) di Sinop Turki. Apabila penawaran tersebut diterima maka kedua negara akan membuat kesepakatan lanjutan untuk segera merealisasikan rencana tersebut. Sementara itu proses lainnya dimana Turki juga berencana mengimpor PLTN dari Rusia masih terus berlangsung.
Dengan empat PLTN jenis Pressurized Water Reactor (PWR) APR-1400, PLTN di Sinop diprediksi akan menghasilkan sekitar 5800 MWe. Reaktor tipe APR-1400 yang pertama saat ini sudah hamper selesai dan siap untuk dioperasikan di daerah Shin-Kori, Korea Selatan. Selain itu Uni Emirat Arab (UEA) juga sedang membangun reaktor tipe ini yang direncanakan beroperasi 2020 setelah kesepakatan 20 Milyar Dolar tahun lalu.
KEPCO sendiri juga sudah melakukan pendekatan kepada Komisi Regulator Nuklir AS terkait dengan rencana pembangunan PLTN baru di AS dan lisensi reaktor tipe tersebut di AS, namun demikian sepertinya hal ini akan menghadapi kendala dimana Westinghouse telah memegang lisensi dengan reaktor yang sudah teruji AP1000
Sementara itu di ibukota Korea Selatan, Seoul Perdana Menteri Chung Un Chan menyatakan keinginan Korea Selatan meningkatkan kualitas bahan bakar nuklir yang telah diimpor dan mengurangi limbah dengan pemrosesan ulang dan daur ulang.
Menurut harian Korea Herald, PM mengatakan “Korea berencana untuk mengembangkan teknologi lebih lanjut guna mendapatkan siklus bahan bakar sehingga mampu mendaur ulang bahan bakar nuklir dan mengurangi limbah radioaktif aktivitas tinggi.
Sampai saat ini Korea Selatan telah melakukan kesepakatan AS tentang pemrosesan dan daur ulang bahan bakar nuklir, hal ini sejalan dengan kebijakan AS untuk mengurangi jumlah Plutonium dan agar dapat dimanfaatkan kembali.
Salah satu pemicu yang mendorong kemajuan iptek nuklir di Korea Selatan terutama dibidang energy adalah karena negara tersebut hanya memiliki sedikit sumber energi. Jika dibandingkan dengan energi fosil, energy nuklir dinilai lebih menjanjikan. Saat ini di Korea nuklir sudah menyuplai sekitar 40% dari konsumsi listrik dan direncanakan mencapai lebih dari 55% hingga 2030. Diharapkan hal ini tercapai dari impor uranium dan meningkatkan 30% lebih energy dari daur ulang bahan bakar nuklir. (eph/sumber wnn)