(21/09/10) Berita mengejutkan datang dari Menteri Barbara Hogian, kepala Departemen Perusahaan Publik Afrika Selatan, yang menyebutkan bahwa induk utilitas listrik Afsel, ESKOM, akan memotong habis anggaran proyek reaktor modular pebble bed (Pebble Bed Modular Reactor, PBMR).
Seperti diberitakan Nuclear Enginering International (20/09/2010), Hogan mengatakan bahwa pemotongan ini dilakukan sebagai imbas dari krisis ekonomi dunia. Hogan juga menyebutkan beberapa realita dari proyek PBMR tersebut, yaitu tidak adanya mitra baik itu pengguna maupun investor, nilai investasi yang cukup besaryaitu sekitar 30 miliar ZAR (setara dengan 3,2 juta euro), konstruksi yang tertunda, serta minimnya aplikasi teknologi pebble bed (yaitu reaktor Gen-IV) pada program pembangunan PLTN dalam jangka pendek (yang rencananya akan menggunakan desain reaktor Gen-II atau Gen-III).
Tujuan proyek PBMR saat ini adalah untuk melindungi kekayaan intelektual serta aset PBMR. Proses dekomisioning laboratorium bahan bakar akan dilakukan oleh NECSA. Salah satu fasilitas litbang PBMR yang akan terancam untuk dipusokan bila masalah ekonomi tidak segera diselesaikan adalah fasilitas uji helium. Meskipun demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus mempertahankan dan mendukung program energi nuklir (disebutkan bahwa NEI sangat paham jika fasilitas HTTF di North West University yang didukung dari proyek PBMR akan terus beroperasi). Dalam waktu dekat, pemerintah akan membentuk suatu komite khusus yang bertugas untuk mereview dan mengaudit proyek yang telah berlangsung sehingga hal-hal yang telah dipelajari dapat teridentifikasi, “fokusnya adalah pada aspek governance corporate”, demikian dikemukakan oleh Hogan.
Dalam waktu 10 tahun, PBMR telah menghabiskan dana sebesar 7,4 milyar ZAR (atau 794 juta euro). Dana tersebut berasal dari kontribusi beberapa pihak, yaitu dari pemerintah Afsel (80,3%), eskom (8,8%), Westhinghouse (4,9%), Industrial Development Corp (49%) dan Exelon (1,1 %).
Hogan mengatakan bahwa permasalahan mulai muncul pada tahun 2005, “antara tahun 2005 dan 2009, dari desain siklus listrik langsung (direct-cycle electricity design) semakin terlihat jelas, bahwa invenstor maupun pasar yang potensial untuk PBMR adalah sangat terbatas dan sangat sulit diperoleh”
Menurutnya, adanya “lubang” pada pengetahuan maupun keahlian (mengenai PBMR) akibat penutupan proyek adalah hal yang sangat disesalkan, tetapi sungguh tidak dapat dihindari. Hal lain yang disampaikan adalah tidak ada pertanyaan mengenai keabsahan teknis dari proyek tersebut.
Proyek PBMR dimulai pada tahun 2000, yaitu ketika studi kelayakan secara detail telah berhasil dilakukan. Kemudian pada tahun 2003, Badan Regulasi Nuklir Nasional memberikan pandangan positif mengenai lisensi PBMR. Di tahun 2005 terjadi pergeseran fokus proyek, yaitu memperoleh lisensi dari PLTN contoh dan desain reaktor. (th.erni/sumber Nuclear Engineering International)