Jakarta, Infonuklir (16/01/2012); "Hari ini memang masih banyak pilihan, tetapi kalau bicara puluhan tahun ke depan, nuklir adalah keniscayaan, dan kita harus menguasai teknologi nuklir". Demikian sambutan yang disampaikan Ketua METI Ir. Hilmi Panigoro dalam Seminar Internasional yang diprakarsai oleh Women In Nuclear Indonesia. Dengan Tema Improving the Quality of Human Resources in Nuclear Sciences seminar ini bertempat di Gedung Energi, Medco Energy SCBD Lantai 28.
Dihadiri beberapa lembaga pemerintah diantaranya Kementerian Riset dan Teknologi, BATAN, BAPETEN, LIPI, juga dari HIMNI, MPEL, Kowani, Universitas serta kalangan pengusaha.
Menurut Hilmi Panigoro kebijakan penutupan PLTN yang dilakukan beberapa negara bersifat sementara. "Itu hanya temporary over reaction. Nuklir sangat penting perannya dalam mix energy diwaktu yang akan datang untuk ketahanan energi" tutup beliau.
Diawal acara Ketua Women in Nuclear Indonesia Ir. Tri Murni mengatakan banyak manfaat dari nuklir disetiap aspek kehidupan manusia. Seminar Internasional ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Wakil Duta Besar RI untuk Austria H.E Triyono Wibowo SH, Dr. Eva Gyane (IAEA Nuclear Safeguards Inspector) serta Dr. Gabriele Voight (Director of Seiberdorf Laboratory, IAEA). Selaku moderator Ketua Kowani DR. Dewi Motik Pramono, M. Si.
Dr. Eva Gyane dalam presentasinya Preparing for Nuclear Power Programme Safeguards Milestone menjelaskan tahapan-tahapan persiapan pembangunan PLTN, aspek keselamatan dan aspek hukumnya. Sementara itu Dr. Gabriele Voight dalam presentasinya Nuclear Technologies for the Environment, Protecting Air, Earth and Oceans menyampaikan manfaat iptek nuklir dengan segala aplikasinya untuk kesejahteraan bangsa. Beliau mengatakan kehidupan manusia tidak bisa lepas dari radiasi. "Merupakan hal yang normal radiasi ada di kehidupan kita" tambah beliau.
Pembicara ketiga H.E Triyono Wibowo SH menjelaskan sejarah perkembangan Non Proliferation Treaty (NPT) dan Comprehensive Nuclear Teste-Ban-Treaty (CNTBT) di dunia. Nuklir menjadi isu politik internasional pada tahun 1945 sejak peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Keberhasilan Amerika saat itu menyadarkan dunia betapa pentingnya penguasaan teknologi nuklir. "Dunia berlomba-lomba dalam pengembangan senjata nuklir", tambah beliau. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi PBB, dan pada tahun 1957 IAEA terbentuk. Secara khusus bertujuan untuk mengendalikan, membatasi dan melarang percobaan senjata nuklir. Kemudian NPT terbentuk pada tahun 1968. Menurut beliau CTBT memiliki arti penting bagi Indonesia untuk memberikan kepercayaan diri bagi Indonesia terkait program nuklirnya dalam rangka kerjasama dengan negara lain. "Dan di tahun 2050 Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi nomor 7 di dunia, ini bisa dipenuhi dengan energi nuklir" tambah beliau.
Dalam diskusi, Peserta mengakui menjadi lebih paham dan sadar bahwa iptek nuklir banyak manfaatnya. Tidak seburuk pemikiran mereka selama ini. Seperti diungkapkan oleh Ibu Ningsih dan Ibu Dewi, melihat betapa pentingnya bahasa sederhana dalam sosialisasi iptek nuklir. Di akhir sesi diskusi Kepala BATAN Dr. Hudi Hastowo mengapresiasi seminar ini dan secara khusus menyambut baik ajakan Ketua Kowani DR. Dewi Motik Pramono MSi untuk bersama-sama dan kerjasama dalam mensosialisasikan iptek nuklir. Sementara itu Dr. Eva Gyane mengatakan nuklir bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia. "Saya percaya dengan kemampuan sumber daya manusia Indonesia di bidang nuklir, segeralah memulai pemanfaatan energi nuklir untuk kemajuan bangsa”. (AG)