Telah dilakukan jajak pendapat iptek nuklir masyarakat propinsi Bangka Belitung untuk mengukur tingkat penerimaan masyarakat terhadap iptek nuklir/PLTN. Sebaran responden berjumlah 500 orang meliputi 7 kota/kabupaten di Propinsi Bangka Belitung. Teknik penarikan sampel menggunakan kombinasi penarikan acak bertingkat (multistage sampling) dan acak sederhana (simple random sampling). Teknik ini digunakan agar variabilitas dan probabilitas terwakili sama dalam penarikan sampel point (desa) dan responden. Unit sampling terkecil dalam jajak pendapat ini adalah desa yang dibedakan berdasarkan kategori urban rural. Berdasarkan jajak tersebut diketahui bahwa 35,0% masyarakat Bangka Belitung dapat menerima rencana pembangunan PLTN di wilayah mereka dengan alasan diperlukannya kestabilan suplai energi. Sebanyak 31, 6% menolak terhadap rencana pembangunan PLTN karena khawatir akan adanya kecelakaan/kebocoran reaktor nuklir, sedangkan 33,4% sisanya memilih untuk bersikap tidak tahu (abstain). Dari jajak tersebut juga terungkap bahwa sebagian besar (59.2%) wilayah di Bangka Belitung sering terjadi pemadaman listrik. Sedangkan terkait kegiatan sosialisasi iptek nuklir/PLTN, sebagian besar responden (98,2%) menyatakan belum pernah mengikuti kegiatan sosialisasi iptek nuklir/PLTN. Hasil jajak pendapat tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi terhadap kegiatan diseminasi iptek nuklir, baik yang bersifat edukasi publik, informasi publik, maupun pemanfaatan hasil litbangyasa iptek nuklir di masyarakat.
Kata kunci : Jajak, Bangka Belitung, PLTN.
1. PENDAHULUAN
Kegiatan jajak pendapat masyarakat propinsi Bangka Belitung merupakan tahap pertama dari rencana kegiatan jajak yang akan dilaksanakan secara nasional. Kegiatan tahap pertama dilaksanakan di Bangka Belitung mengingat daerah ini direncanakan akan menjadi tempat rencana pembangunan PLTN. Jajak pendapat tersebut dilakukan oleh lembaga independen (PT. Tridacomi Andalan Semesta) yang merupakan pemenang lelang terhadap pekerjaan kegiatan tersebut. Kegiatan jajak tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauhmana tanggapan dan pengetahuan masyarakat umum tentang iptek nuklir dan pemanfaatannya di bidang energi, khususnya rencana pembangunan PLTN.
Kegiatan jajak sendiri sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2001 dengan responden yang berasal dari kalangan akademisi yaitu siswa SMA, mahasiswa, dan guru dengan jumlah total responden sebanyak 16.789 orang. Tahun 2001 meliputi kabupaten Jepara, kabupaten Kudus dan kabupaten Rembang, pada tahun 2002 dilakukan di kotamadya Surabaya. Pada tahun 2003 meliputi : kabupaten Demak, kota Semarang, kabupaten Semarang dan kabupaten Pati. Tahun 2004 dilakukan di kota Yogyakarta, tahun 2005 di daerah kotamadya Bandung, kemudian tahun 2006 dilakukan jajak pendapat di Madura meliputi 4 kabupaten, yaitu kabupaten Sampang, Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep. Pada tahun 2007 dan 2008 telah dilakukan jajak pendapat iptek nuklir di kalangan mahasiswa se-kota Semarang dan Yogyakarta dengan sebaran 18 perguruan tinggi. Tahun 2009 telah dilakukan jajak pendapatiptek nuklir di kalangan guru anggota MGMP (Yogyakarta, Semarang, Surabaya), khususnya di Jepara juga dilakukan jajak pendapat sebanyak 1.000 responden masyarakat umum. Pada tahun 2010 telah dilakukan kegiatan evaluasi tingkat penerimaan masyarakat terhadap iptek nuklir dengan cakupan responden dan sebaran daerah yang lebih luas meliputi Jawa – Bali, sebanyak 3.000 responden, dilaksanakan secara serentak pada 22 daerah yang representatif dapat menggambarkan tingkat penerimaan masyarakat terhadap iptek nuklir. Jajak tersebut diperoleh status penerimaan masyarakat terhadap iptek nuklir sebesar 59,7% menerima pembangunan PLTN, 25,5% menolak dan 14,8% tidak tahu.
Pada Tahun 2011 ini akan dilakukan jajak pendapat iptek nuklir dengan sebaran responden 5.000 orang meliputi 33 Propinsi oleh PT. Tridacomi Andalan Semesta yang merupakan lembaga independen pemenang lelang. Sampel dalam jajak ini dirancang untuk dapat merepresentasikan penduduk dewasa di seluruh Indonesia yakni yang sudah menikah, untuk menggambarkan kondisi regional tersebut. Jajak pendapat tahap I telah dilakukan pada masyarakat di Propinsi Bangka Belitung, sebaran responden berjumlah 500 orang meliputi 7 kota/kabupaten di Propinsi Bangka Belitung. Teknik penarikan sampel menggunakan kombinasi penarikan acak bertingkat (multistage sampling) dan acak sederhana (simple random sampling). Teknik ini digunakan agar variabilitas dan probabilitas terwakili sama dalam penarikan sampel point (desa) dan responden. Unit sampling terkecil dalam jajak pendapat ini adalah desa yang dibedakan berdasarkan kategori urban rural. Hasil jajak pendapat tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi terhadap kegiatan diseminasi iptek nuklir,, baik yang bersifat edukasi publik, informasi publik, maupun pemanfaatan hasil litbangyasa iptek nuklir di masyarakat.
2. METODE PENELITIAN
Sampel dalam jajak ini dirancang untuk dapat merepresentasikan penduduk dewasa di Bangka Belitung minimal berusia 17 tahun untuk menggambarkan kondisi regional tersebut. Survei akan menjaring sebanyak 500 responden dengan MoE 3,2%. Nilai MoE dalam jajak pendapat ini ditentukan pada tingkat kepercayaan 95%.
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah kombinasi penarikan acakbertingkat (multistage sampling) dan acak sederhana (simple randomsampling). Teknik ini digunakan agar variabilitas dan probabilitas terwakili sama dalam penarikan sampel point (desa) dan responden. Unit sampling terkecil dalam jajak pendapat ini adalah desa yang dibedakan berdasarkan kategori urban rural. Jumlah sampel masing-masing desa sebesar 10 responden, agar menjangkau keterwakilan kategori desa yang direncanakan. Proporsi penentuan desa berdasarkan urban-rural diharapkan berbanding 50:50 yang berarti bahwa pada setiap wilayah dalam frame sampling mewakili 50 desa berkategori urban dan 50 desa berkategori rural. (lihat pula Bagan 1.1).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Sebaran dan Profil Responden
Berikut ini adalah gambaran sebaran sampel di 7 Kabupaten/kota di Bangka Belitung sebagaim
ana tampak dalam Tabel.3.1

Berdasarkan karakteristik demografinya secara umum gambaran sampel jajak ini tampak dalam Tabel.3.2.

3.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Krisis Listrik
Sebagian besar responden (59,2%) menyatakan sering terjadi pemadaman listrik di daerah, 37,4% yang menyatakan jarang dan hanya 3,4% yang menyatakan tidak pernah.
3.3. Pengetahuan masyarakat terhadap Nuklir
Untuk mengukur pernah tidaknya masyarakat mendengar/mengetahui tentang “Nuklir”, dalam jajak ini diajukan pertanyaan “Apakah Anda mengetahui atau pernah mendengar tentang “nuklir”?“ (responden menjawab satu jawaban). Responden yang pernah mendengar/mengetahui tentang “ Nuklir” ada 64.6%, yang tidak pernah mendengar/mengetahui tentang ”nuklir” 13.8%, sedangkan yang tidak mengetahui sama sekali adalah 21.6%.
Sementara tingkat pengetahuan masyarakat terhadap PLTN dapat dilihat pada Gambar 3.3. Hasil jajak menunjukan bahwa hanya sekitar 42.4% responden yang pernah mendengar atau mengetahui PLTN, tidak mengetahui 15,8 %, dan kurang mengetahui 40,8 %.
3.4. Tingkat Penerimaan Masyarakat Terhadap Rencana Pembangunan PLTN
Kepada responden diajukan pertanyaan: “Apabila Indonesia ingin membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi krisis kekurangan listrik di masa yang akan datang, bagaimana sikap Anda?”.

Hasilnya jajak menunjukkan bahwa sebanyak 35,0% masyarakat menerima rencana pembangunan PLTN, 31,6% menolak dan sisanya 33,4% tidak tahu/tidak menjawab.
Sementara sebaran wilayah yang paling banyak menerima rencana pembangunan PLTN adalah Kabupaten Bangka Tengah (63,3%) dan yang paling sedikit menerima rencana pembangunan PLTN adalah Kabupaten Belitung (5,0%).

Gambar 3.5. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN berdasarkan sebaran wilayah
Dari pendalaman yang dilakukan kepada responden terkait alasan menerima atau menolak terhadap rencana pembangunan PLTN, diperoleh fakta bahwa dari 35,0% yang menerima pembangunan PLTN, alasan mereka menerima keberadaan PLTN sebagian besar adalah untuk kestabilan pasokan energi (44,6%) dan menciptakan lapangan kerja (17,7%). Cukup banyak masyarakat yang menerima tanpa alasan (18,3%), selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.3. Sedangkan dari 31,6% responden yang menolak pembangunan PLTN, mereka beralasan khawatir terjadi kecelakaan/kebocoran reaktor nuklir (74,8%) dan akan menimbulkan pencemaran radio aktif (48,4%). Selengkapnya ditunjukkan pada Tabel 3.3.

3.6. Program Sosialisasi Iptek Nuklir
Tanggapan responden terhadap keikutsertaan pada kegiatan sosialisasi iptek nuklir (seminar, pameran, ceramah, penyuluhan, workshop) yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah, menyatakan bahwa sebagian besar (98,2%) rensponden belum pernah mengikuti dan hanya 1,8% menyatakan pernah mengikuti kegiatan sosialisasi iptek nuklir.
Dari jajak pendapat tersebut juga diketahui bahwa, narasumber yang paling bisa dipercaya oleh masyarakat untuk sosialisasi PLTN adalah profesor/ahli/ilmuwan di bidang nuklir (58,6%) dan lembaga pemerintah terkait, seperti BATAN (35.8%). Sedangkan media sosialisasi PLTN yang paling efektif dipercaya oleh masyarakat adalah berita di televisi (73,2%), sementara media cetak tingkat kepercayaan hanya sebesar 55,6%.

4. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Mengacu pada hasil analisis data seperti diuraikan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan dan pengajuan rekomendasi.
4.1. Kesimpulan
- Sebagian besar responden (59,2%) menyatakan sering terjadi pemadaman listrik di daerah, 37,4% yang menyatakan jarang dan hanya 2,4% yang menyatakan tidak pernah.
- Masyarakat yang mengenal ”Iptek Nuklir” sebesar 64,6%, sementara yang mengenal PLTN sekitar 38.4%.
- Sebanyak 35,0% masyarakat Bangka Belitung menerima rencana pembangunan PLTN untuk mengatasi krisis kekurangan listrik di masa yang akan datang. Lalu sebanyak 31,6% menolak dan 33,4% lainnya menjawab tidak tahu. Berdasarkan wilayahnya Kabupaten Bangka Tengah adalah wilayah yang paling tinggi penerimaanya (63,3%), sedangkan yang terendah penerimaanya ada di Kabupaten Belitung (5,0%).
- Sekitar 98.2% responden mengaku belum pernah mengikuti program sosialisasi dan hanya 1.8% yang pernah mengikuti.
- Narasumber yang paling bisa dipercaya oleh masyarakat untuk sosialisasi PLTN adalah profesor/ahli/ilmuwan di bidang nuklir (58,6%) dan lembaga pemerintah terkait, seperti BATAN (35.8%). Sedangkan media sosialisasi PLTN yang paling efektif dipercaya oleh masyarakat adalah berita di televisi (73,2%),sementara media cetak tingkat kepercayaan hanya sebesar 55,6%.
4.2. Rekomendasi
Respon yang paling urgent ditindaklanjuti adalah kegiatan sosialisasi iptek nuklir agar lebih masif dan tepat sasaran, disamping itu perlu menggunakan sarana yang dipercaya dan memadai, baik secara online, media cetak, maupun secara tatap muka langsung kepada masyarakat. Secara lebih terstruktur ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

(Oleh : Mudjiono, S.Si)
Artikel terkait
| |
|||||||||
|
|








