Telah dilakukan Jajak Pendapat PLTN secara nasional pada tangga 22 Oktober – 4 Nopember 2011 yang meliputi 33 propinsi dengan sebaran responden sebanyak 3.000. Kriteria responden adalah masyarakat umum (general public) berusia lebih dari 15 tahun yang terbagi menjadi daerah urban dan rural dengan perbandingan proporsional populasi penduduk, Metode survei yang digunakan adalah face to face interview dengan kombinasi penarikan sampel secara acak bertingkat (multistage sampling) dan acak sederhana (simple random sampling). Tujuan dari kegiatan tersebut dimaksud untuk mengetahui penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN sebagai energi alternatif ke depan. Hasil jajak didapatkan bahwa 49,5% responden menerima PLTN, 35,5% responden menolak, dan 15,0% responden tidak tahu.
Kata Kunci : Jajak, PLTN, Nasional.
1. PENDAHULUAN
Listrik merupakan permasalahan yang penting dalam kelangsungan Negara. Pemerintah Indonesia secara khusus mencurahkan segala upaya agar pasokan listrik tersebut dapat mencukupi kebutuhan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas energi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Secara diametrikal pembangkit listrik dikembangkan untuk memastikan pasokan listrik dapat mengimbangi pertumbuhan ekonomi. Dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014 antara lain prioritas nasional dibidang energi alternatif: peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2.000 MW pada 2012 dan 5.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya, microhydro, serta nuklir secara bertahap. Jadi semua sumberdaya energi dikembangkan oleh Pemerintah
Nuklir, adalah source energy yang paling ‘muncit’ dilirik. Unjuk kerja nuklir di bidang non energi sudah berkembang luas di Indonesia. Berbagai hasil penelitian dan pengembangan di bidang tersebut sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai bidang seperti pertanian, peternakan, kesehatan, industri, dan lain lain.
Namun demikian pemanfaatan iptek nuklir di bidang energi dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) masih belum dikenal secara umum oleh masyarakat Indonesia. Pro dan Kontra muncul atau dimunculkan di masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN.
Presepsi masyarakat terhadap PLTN tersebut perlu sedini mungkin untuk diperhatikan dalam upaya untuk memberikan pemahaman yang jujur dan objektif sejauhmana tanggapan dan pengetahuan masyarakat umum tentang iptek nuklir dan pemanfaatannya. Untuk itu diperlukan suatu kegiatan evaluasi tingkat penerimaan masyarakat terhadap hasil litbangyasa iptek nuklir. Kegiatan tersebut berupa jajak pendapat yang hasilnya diharapkan dapat merepresentasikan penerimaan masyarakat secara umum terhadap iptek nuklir, khususnya PLTN. Jajak Pendapat ini salah satunya dimaksudkan untuk melengkapi base line tingkat penerimaan masyarakat terhadap PLTN yang sudah didapatkan pada tahun 2010.
2. METODOLOGI
Metode survei yang digunakan dengan face to face interview dengan melibatkan sejumlah responden. Sampel dalam jajak ini dirancang untuk dapat merepresentasikan penduduk dewasa minimal berusia 15 tahun dan menjaring sebanyak 3.000 responden meliputi 33 propinsi dengan MoE 3,2%. Nilai MoE dalam jajak pendapat ini ditentukan pada tingkat kepercayaan 95%.
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah kombinasi penarikan acakbertingkat (multistage sampling) dan acak sederhana (simple randomsampling). Teknik ini digunakan agar variabilitas dan probabilitas terwakili sama dalam penarikan sampel point (desa) dan responden. Unit sampling terkecil dalam jajak pendapat ini adalah desa yang dibedakan berdasarkan kategori urban rural. Jumlah sampel masing-masing desa sebesar 10 responden, agar menjangkau keterwakilan kategori desa yang direncanakan. Proporsi penentuan desa berdasarkan urban-rural diharapkan berbanding 50:50 yang berarti bahwa pada setiap wilayah dalam frame sampling mewakili 150 desa berkategori urban dan 150 desa berkategori rural. (Gambar 1).

3. SEBARAN DAN PROFIL RESPONDEN
Sebaran sampel untuk masyarakat umum sebanyak 3.000 responden yang terbagi menjadi daerah rural dan urban ditunjukan pada Tabel 1. Sementara komposisi demografi responden ditunjukkan pada Tabel 2.



4._HASIL_DAN_PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis terhadap data jajak pendapat yang telah dilakukan, penilaian masyarakat dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini
4.1. Persepsi masyarakat mengenai kecukupan listrik
36,3% responden menyatakan sering terjadi pemadaman listrik, 58,7% yang menyatakan jarang dan hanya 5,1% yang menyatakan tidak pernah. Menurut penilaian masyarakat pemadaman listrik, ada tiga faktor penyebab pemadaman, yaitu: kerusakan jaringan listrik (45,9%), perubahan cuaca/iklim (23,0%), dan kerusakan mesin pembangkit (21,2%).

Gambar 2 Kondisi pemadaman listrik per wilayah di Indonesia

Gambar 4.. Pemahaman masyarakat terhadap PLTN

Secara demografi sebaran tingkat pemahaman masyarakat terhadap PLTN dapat dilihat pada Gambar 5. Masyarakat urban (18,5%) relatif lebih memahami dari pada masyarakat rural (12,2%).

4.3. Tingkat penerimaan masyarakat terhadap PLTN
Untuk tingkat penerimaan terhadap pembangunan PLTN, dalam jajak dibagi kedalam dua dimensi. Pertama penerimaan berdasarkan jenis reponden dan kedua penerimaan berdasarkan wilayah. Kepada beragam jenis responden diajukan pertanyaan: “Apabila Indonesia ingin membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi krisis kekurangan listrik di masa yang akan datang, bagaimana sikap Anda?”. Hasilnya tampak pada Gambar 6, sebanyak 49,5% responden menerima pembangunan PLTN, 25,5% menolak dan sisanya 15,0% tidak tahu.


Dalam jajak tersebut juga diketahui alasan responden untuk menerima pembangunan PLTN ditunjukkan pada Tabel 3, dari 49,5% % responden yang menerima pembangunan PLTN, alasan mereka menerima keberadaan PLTN sebagian besar adalah untuk kestabilan pasokan energi (53,6%), menciptakan lapangan kerja (21,6%) dan Biaya lebih efisien (19,6%).

Sedangkan alasan masyarakat menolak pembangunan PLTN didapat bahwa dari 25,5% yang menolak pembangunan PLTN, mereka beralasan khawatir terjadi kecelakaan/kebocoran reaktor nuklir (78,8%), akan menimbulkan pencemaran radioaktif (39,7%), dan khawatir digunakan untuk senjata nuklir (25,5%). Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

4.4. Informasi yang diinginkan
Dari jajak tersebut juga terungkap bahwa sebagian besar responden menginginkan informasi yang berkaitan dengan jaminan keselamatan PLTN (52,1%), dampak pembangunan PLTN terhadap lingkungan (51,9%), dan rencana pemerintah membangun PLTN (34,2%).

Sementara Narasumber yang paling dipercaya oleh masyarakat untuk sosialisasi PLTN adalah profesor/ahli/ilmuwan di bidang nuklir (60,5%), Lembaga Pemerintah (44,4%). Sedangkan Presiden, diurutan ketiga, yang dipercaya untuk memberikan sosialisasi (31,4%). Selengkapnya data dilihat pada Gambar 8.

Masyarakat menilai bahwa media sosialisasi yang dipercaya adalah berita di televisi (81.9%), iklan di televisi (43.5%) dan berita di media cetak (40.5%). Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9. Media sosialisasi yang layak dipercaya
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
36,3% responden menyatakan sering terjadi pemadaman listrik, 58,7% yang menyatakan jarang dan hanya 5,1% yang menyatakan tidak pernah. Menurut penilaian masyarakat pemadaman listrik, ada tiga faktor penyebab pemadaman, yaitu: kerusakan jaringan listrik (45,9%), perubahan cuaca/iklim (23,0%), dan kerusakan mesin pembangkit (21,2%).
Sebanyak 49,5% masyarakat umum menerima pembangunan PLTN untuk mengatasi krisis kekurangan listrik di masa yang akan datang, sebanyak 25,5% menolak dan 15,0% lainnya menjawab tidak tahu.
Narasumber yang paling dipercaya oleh masyarakat untuk sosialisasi PLTN adalah profesor/ahli/ilmuwan di bidang nuklir (60,5%), Lembaga Pemerintah (44,4%). Sedangkan Presiden, diurutan ketiga, yang dipercaya untuk memberikan sosialisasi (31,4%).
Media sosialisasi yang dipercaya adalah berita di televisi (81.9%), iklan di televisi (43.5%) dan berita di media cetak (40.5%).
5.2. Saran
Hasil analisis data menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi adalah masih kurangnya sosialisasi terhadap pembangunan PLTN. Karena itu, rekomendasinya adalah agar BATAN selaku pemangku kepentingan utama iptek nuklir perlu meningkatkan sosialisasi, dengan rincian sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Artikel terkait
| |
|||||||||
|
|








