Keekonomian Operasional PLTN : Studi kasus di Beberapa Negara
01 Jul 2010 04:55:50
Artikel terkait
| |
|||||||||
|
|
Banyak studi, termasuk salah satu yang dibuat baru-baru ini oleh The Nuclear Energy Agency of the OECD (OECD/NEA) dan IAEA, menunjukkan bahwa instalasi tenaga nuklir di sebagian besar negara sangat kompetitif bila dibandingkan secara ekonomi dengan jenis energi lainnya. Selain itu penggunaan energi nuklir telah mempertimbangkan perbandingan dengan alternatif-alternatifnya dari beberapa segi antara lain pendanaan, unjuk kerja dan keandalan, ketergantungan dari fluktuasi dalam ketersediaan dan harga pemasok, serta dampak lingkungan dan kesehatan.
Pembangunan PLTN membutuhkan biaya investasi yang besar, tetapi pada saat PLTN beroperasi hanya memerlukan biaya bahan bakar yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit yang lain. Hal ini dikarenakan oleh bahan bakar nuklir yang sangat kompak dan mempunyai kandungan energi yang lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar fosil ataupun minyak. Biaya bahan bakar yang rendah ini menjadikan biaya produksi listrik PLTN akan kompetitif terhadap pembangkit lain, serta lebih stabil karena tidak rentan terhadap perubahan harga bahan bakar dunia.
Di banyak negara biaya pembangkitan listrik PLTN sudah dapat bersaing dengan PLTU batubara maupun gas. Terlebih jika biaya lingkungan atau eksternalitas ikut diperhitungkan. Menurut perhitungan yang ada, biaya pembangkitan listrik PLTN sudah dapat ditekan menjadi sekitar 5-6 cent USD/kWh.
Pembangunan PLTN memerlukan investasi yang cukup besar, mengingat biaya pembanguan sesaat (overnightcost)sekitar 1800-2700 USD/kWe. Sehingga untuk pembangunan dua unit (twin) PLTN 2x1000 MWe diperlukan dana sekitar 3,6-5,4 billion USD. Untuk itu diperlukan jaminan pemerintah dan kemudahan lain, jika ingin mendatangkan investasi yang besar tersebut. Apalagi proses persiapan dan pembangunan PLTN hingga pengoperasian komersial memerlukan waktu yang cukup panjang sekitar 8-10 tahun.
Banyak model pendanaan pembangunan PLTN yang dapat dilakukan, tetapi yang perlu diperhatikan saat ini adalah model pendanaan yang tidak memberatkan posisi keuangan pemerintah atau anggaran negara, misalnya antara lain:
1. Pinjaman Pemerintah
2. Kredit Eksport Pemerintah
3. Investasi Perusahaan Swasta atau Konsorsium.
Saat ini dibeberapa negara menggunakan pola BOT (Build Operate and Transfer) untuk membangun PLTN, seperti di Turki dan Uni Emirate Arab. Rusia dan Turki sepakat untuk membangun PLTN 1200 MW dengan Model BOO. Listrik akan dibeli oleh Perusahaan Listrik Turki dengan harga 12,35 Cent $/KWh selama 15 Tahun.Sedangkan Korea Selatan akan membangun empat unit PLTN dengan total daya 5.600 MW di Uni Emirate Arab dengan masa kontrak BOT selama 60 tahun.
Perkiraan Biaya Investasi PLTN di Indonesia
Biaya sesaat pembangunan (overnight cost) PLTN bergantung kepada beberapa faktor, termasuk kondisi daerah/wilayah PLTN akan dibangun, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Menurut Nuclear Technology Review 2009, IAEA, Vienna 2009, biaya sesaat untuk Pembangunan PLTN di wilayah Asia adalah yang paling rendah berdasar pada pengalaman terkini membangun PLTN. Biaya sesaat di Asia terendah sekitar 1.500 US$/kWe dan tertinggi sekitar 3.600 US$/kWe (lihat gambar 1). Biaya investasi tertinggi di Asia adalah di Jepang, mengingat daerahnya mempunyai intensitas dan frekuensi kegempaan yang tinggi, sehingga memerlukan standar konstruksi yang lebih tinggi. Pembangunan PLTN di Amerika Utara memerlukan investasi yang lebih tinggi karena labour cost-nya tinggi serta minimnya data yang tersedia dalam membangun PLTN


Gambar 1. Biaya sesaat PLTN baru menurut wilayah
Tabel 1. Menyajikan data tentang Peak Ground Acceleration (PGA) yang menunjukkan tingkat seismisitas calon tapak potensial PLTN di Indonesia dan Tapak PLTN di Jepang dan Korea.
Tabel 1. Data Peak Ground Acceleration(PGA) PLTN

Tabel 2. Biaya Pembangunan PLTN untuk beberapa Proyek PLTN

Sumber: World Nuclear Association, 2010
Dengan mempertimbangkan hal-hal penting di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Biaya Pembangkitan Listrik PLTN
Jika di banyak Negara harga listrik PLTN lebih murah dengan harga listrik pembangkit fosil, bagaimana kalau PLTN akan dibangun di Indonesia. Akan lebih murahkah dan dapat bersaing dengan pembangkit lainnya? Tentunya sebelum pembangunan PLTN dilaksanakan sudah dilakukan dulu kelayakan ekonomi, dilakukan dulu studi komparasi dengan pembangkit listrik lainnya.
Ciri khas PLTN adalah padat modal, namun murah dalam biaya operasi dan bahan bakar sehingga tidak rentan terhadap perubahan harga bahan bakar. Biaya pembangkitan listrik PLTN terdiri dari:
Dengan berpedoman pada perkiraan harga sesaat pembangunan PLTN untuk kondisi Indonesia yang diasumsikan akan setara dengan harga di Korea yaitu 1.850 US$/kWe, maka harga listrik PLTN akan berkisar 4,8 cent$/kWh. Sebagai perbandingan, menurut statistik PLN tahun 2008, harga pembangkitan listrik rata-rata untuk PLTU adalah sebesar Rp. 597,26 atau 6,5 cent$/kWh (1 USD =9200).
Tinjauan keekonomian PLTN tidak hanya ditinjau dari harga listrik yang dibangkitkan oleh PLTN, namun juga dari aspek eksternalitas (internalisasi biaya eksternal), yaitu biaya yang seharusnya dibayar bila mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan, misalnya aspek kesehatan penduduk di sekitar lokasi dan emisi karbon. Hal ini dikarenakan PLTN sudah dilengkapi dengan sistem keselamatan yang sangat tinggi sehingga akhirnya tergolong sebagai pembangkit listrik teknologi yang bersih dan ramah lingkungan.
| |
|||||||||
|
|







