Kecelakaan PLTN dan pelajaran yang dapat diambil
03 Aug 2010 09:33:19
Artikel terkait
| |
|||||||||
|
|
Kisah kecelakaan nuklir sering menjadi momok yang berakibat pada terhambatnya pembangunan PLTN. Ada beberapa hal yang menjadi ketakutan, yaitu kesalahan prosedur hingga terjadinya gempa yang membuat kebocoran.
Tragedi PLTN Chernobyl merupakan kisah pilu tragedi nuklir dunia. Kecelakaan yang terjadi di Uni Soviet (sekarang di daerah Ukraina) pada 26 April 1986 itu berpangkal dari eksperimen pembangkitan daya darurat, namun dilaksanakan tanpa mematuhi prosedur standar standar keamanan operasi reaktor.Akhirnya terjadilah bencana. Andaikata dua operator reaktor unit 4 PLTN Chernobyl tidak nekat melanjutkan eksperimennya pada 26 April 1986 lepas tengah malam, barangkali tragedi takkan pernah terjadi. Namun tragedi itu juga membuka mata dunia akan persoalan cacat desain reaktor dan manajemen pembangkit yang "ajaib" di eks-Uni Soviet.
Reaktor Chernobyl dikembangkan oleh Uni Sovyet pada era perang dingin, didesain untuk tujuan militer dan mempunyai banyak kelemahan dalam desain. Kesalahan fundamental reaktor itu, karena tidak memiliki pengungkung pencegah kebocoran radiasi ke lingkungan seperti yang selalu ada pada desain reaktor nuklir.Selain itu, reaktor ini memiliki sifat yang kurang aman di mana koefisien reaktivitas void (gelembung) positif, yang jika void dalam pendingin bertambah misalnya karena kenaikan temperatur, teras akan memberikan umpan balik reaktivitas positif yang berakibat reaksi fusi menjadi tak terkendali.
Reaktor nomor 4 yang bocor tersebut juga telah melanggar prosedur dengan melakukan ujicoba yang bertujuan untuk mengetahui apakah turbin di saat berputar dengan momentumnya sendiri setelah reaktor dipadamkan masih mampu menghasilkan tenaga listrik yang cukup untuk menggerakkan alat kedaruratan dan pompa pendingin teras reaktor, sebelum listrik cadangan masuk.
Operator reaktor Chernobyl juga tak memiliki budaya keselamatan dengan tak memperbaiki kelemahan desain reaktornya sebelum terjadi kecelakaan, padahal dokumen "Chernobyl Construction Weakness" telah menyebut secara jelas.
Anggota Pusat Pengkajian dan Pengembangan Energi Nuklir ICMI Irwanuddin yang sempat meninjau bekas Reaktor Chernobyl di Ukraina mengatakan, reaktor no 4 Chernobyl merupakan reaktor riset, namun telah melanggar prosedur dengan mengalihkannya sebagai PLTN.
Selain itu teknologi RBMK tipe 150, yang digunakan reaktor itu menggunakan teknologi yang masih sangat klasik, sementara teknologi PLTN saat ini sudah sangat maju dan berkembang terus.
Meskipun kejadian Chernobyl sudah merusak reputasi PLTN, namun berhubung Rusia membutuhkan energi listrik sangat besar untuk membangun negaranya, maka hingga saat ini 75 persen listrik Rusia berasal dari PLTN.
Hal yang sama juga terjadi pada Jepang yang dijatuhi bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki serta memiliki banyak tantangan gempa dan tsunami, namun 40-50 persen dari tenaga listriknya berasal dari PLTN.
Belajar dari kecelakaan
Penasihat teknis Japan Nuclear Technology Institut (JANTI),Takaaki Konno,sebagaimana yang dilansir Antara mengatakan teknologi keselamatan PLTN saat ini berkembang jauh dibandingkan di masa lalu. Termasuk adanya peraturan internasional dan inspeksi yang semakin ketat. Teknologi yang ada juga dipastikan bisa menahan gempa besar sehingga tidak perlu dikhawatirkan bagi daerah gempa, termasuk Indonesia.
Menurutnya masyarakat Indonesia jangan menjadikan gempa sebagai penghambat pembangunan PLTN. Jepang merupakan wilayah gempa seperti Indonesia. Sebanyak 53 unit PLTN sudah beroperasi selama 40 tahun di Jepang dan sudah melalui banyak peristiwa gempa, kata Takaaki Konno ketika menghadiri seminar Prospects of Nuclear Electric Power in Indonesia pada pertengahan Maret lalu.
Di Jepang memang beberapa kali terjadi gempa, tapi terbukti PLTN di negeri Matahari Terbit itu tidak mengalami masalah yang berarti. Pada 1964 sempat terjadi gempa Niigata dengan magnitudo 7,5, kemudian gempa Kobe pada 1995, gempa di Fukuoka pada 2005 hingga gempa di Surugawan pada 2009 dengan magnitudo 6,5. Dengan teknologi yang sudah tersedia saat ini, dampak dari gempa bisa dicegah. Dia mencontohkan, civil engineering mampu membuat bangunan PLTN tahan terhadap guncangan besar sejak prapembangunan PLTN.
Tingkat Kecelakaan
International Atomic Energy Agency(IAEA) telah memperkenalkan 8 level skala kejadian kecelakaan nuklir agar menjadi informasi yang tepat terhadap masyarakat luas. Level-level tersebut dikatagorikan berdasarkan tingkatan pengaruh/efek baik dalam PLTN itu sendiri maupun keluar PLTN. Delapan level tersebut adalah :
Level 7
Level ini mengkatagorikan kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat besar terhadap kesehatan dan lingkungan di dan sekitar PLTN. Yang termasuk dalam level ini adalah kecelakaan Chernobylyang terjadi di Negara bekas Uni Soviet, sekarang Ukraina pada tahun 1986. Level ini bisa disamakan dengan kasus kecelakaan non-nuklir di Bhopal, India pada tahun 1984 dimana ribuan orang dikabarkan meninggal dunia.
Level 6
Pada level ini, kecelakaan nuklir diindikasikan dengan keluarnya radioaktif yang cukup signifikan, baik PLTN maupun kegiatan industri yang berbasis raioaktif. Contohnya adalah kecelakaan di Mayak, bekas Negara Uni Soviet pada tahun 1957.
Level 5
Level ini mengindikasikan kecelakaan yang mengeluarkan zat radioaktif yang terbatas, sehingga memerlukan pengukuran lebih lanjut. Contoh dari level ini yaitu kecelakaan/kebakaran pada rekator nuklir di Windscale, Inggris tahun 1957. Contoh lainnya yaitu kecelakaan di Three Mile Islandyang merusak inti reaktor pada tahun 1979
Level 4
Level ini mengelompokkan kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang kecil terhadap lingkungan sekitar, inti reaktor dan pekerja (sesuai dengan batas limit yang diizinkan). Beberapa contoh kejadian kecelakaan dalam level ini yaitu kecelakaan pada :
Level 3
Kecelakaan yang dikelompokkan dalam level ini yaitu kecelakaan yang mengakibatkan efek yang sangat kecil dimana masih dibawah level/batas yang diizinkan, namun tidak ada perangkat keselamatan yang memadai. Contoh dari kecelakaan level ini yaitu kecelakaan pada THORP plant Sellafield di Inggris tahun 2005.
Level 2
Kecelakaan pada level ini tidak mengakibatkan efek apapun keluar larea, namun tetap ada kontaminasi didalam area. Level ini juga mengindikasikan kecelakaan yang disebabkan oleh kegagalan untuk memenuhi syarat syarat keselamatan yang seharusnya ada. Contoh kecelakaan dalam level ini adalah kecelakaan pada PLTN ForsmarkSwedia pada bulan Juli 2006 yang lalu.
Level 1
Pada level ini, dikatagorikan kecelakaan yang merupakan anomaly dari pengoperasian sistem .
Level 0
Pada level ini tidak memerlukan tingkat keselamatan yang signifikan dan relevan. Disebut juga sebagai “out of scale”.
| |
|||||||||
|
|







